وَ آمَنُ سَخَطَهُ عِنْدَ كُلِّ شَر
"dan aku selalu merasa aman dengan kemaksiatanku atas murka-Nya"
Allah SWT berfirman dalam surat al-Infithar ayat 6, "Wahai manusia apa yang memperdayamu (berbuat durhaka) pada tuhanmu yang maha pemurah".
Dalam suatu riwayat yang dinukil dalam beberapa kitab seperti Biharul Anwar, Iqbalul A’mal dan sebagainya, seorang sahabat Imam Ja’far Shadiq as yang bernama Muhammad bin Sajjad, berkata pada Imam as, "Wahai Abu Abdillah as, di bulan Rajab ini, ajarilah aku doa agar dapat meraih rahmat dan karunia Allah swt", Imam as berkata padaku, "Tulislah bismillahirrahmanirrahim, dan bacalah doa ini di pagi dan sore hari serta malam-malammu dalam setiap selesai shalat-shalatmu, 'ya man arjuhu likulli khair..wa amanu sakhatahu ‘inda kulli syar…'".
Di awal doa ini dikatakan bahwa Allah adalah sumber segala harapan, karena Dialah sumber kebaikan dan kebaikan hanyalah dari-Nya, Dialah Sang Maha Sempurna yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, salah satu sifat mulia tersebut adalah Karim. Makna Karim (Maha Pemurah) dalam ayat diatas bermakna Maha Pemurah yang segala perbuatannya adalah kebaikan dan bukan dalam rangka mendapatkan keuntungan maupun mencegah kerugian, dalam makna yang lain dan lebih detail dari makna pertama bahwa Karim-Nya Allah SWT bukan hanya Maha Pengampun bagi para pendosa bahkan mengganti dosa seseorang -yang berhak- dengan sebuah pahala, sebagaimana disebutkan dalam salah satu ayat al-Quran, Allah SWT berfirman, "Amal baik dapat menggugurkan amal buruk", (al-Amtsal jld. 19 hal. 485), dan dalam sebuah doa dikatakan, “Wahai yang rahmatnya mendahului murkanya”, selain itu kedermawanan Allah bersumber dari rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu, dalam doa seorang hamba berucap, “Ya Allah, aku memohon padamu berwasilahkan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu”, rahmat Allah umum untuk semua makhluk baik yang taat ataupun yang durhaka, seperti nikmat sehat, aman, rizki dan sebagainya.
Manusia -tanpa kecuali dalam kehidupannya- merasakan nikmat-nikmat Allah SWT, baik orang-orang yang bersyukur atas nikmat tersebut dengan mengerjakan kewajiban dan menjauhi larangannya maupun yang tidak bersyukur, meski begitu Allah tidak pernah memutus rahmat-Nya dari makhluknya, untuk itulah terkadang dan kebanyakan manusia lalai akan murka Allah swt, mereka merasa bahwa Allah Maha Karim dan Rahim sehingga mereka menganggap mudah maksiat-maksiat yang dilakukannya di hadapan Rabbun Karim wa Rahim dan terjerumus pada jurang kelalaian, penyakit ini pula yang menjangkiti orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagaimana yang disinyalir al-Quran dalam surat Ali Imran ayat 24, “dan hal itu terjadi karena mereka mengaku kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari saja mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa-apa yang selalu mereka ada-adakan”.
Manusia tidak selayaknya hidup hanya dengan harapan (roja) semata akan rahmat Allah SWT, sebagai mana yang disebut di awal doa pertama, selain itu pula dia harus hidup dengan rasa takut (khauf) akan murka Allah SWT dalam segala hal yang dilarang-Nya, sehingga dia akan selamat dari kelalaian dan tipu daya dunia, karena orang-orang yang lalai mereka adalah mayat yang berjalan di dunia, pada hakikatnya jiwa mereka mati namun jasad mereka bergerak, dalam bahasa arab kata lalai disebut dengan kata ghurur yang berarti lalai di saat terjaga, dengan kata lain orang tersebut tidur di saat terjaga, tidak menggunakan akalnya di saat dia mampu menggunakan akalnya, al-Quran mensifati mereka seperti binatang bahkan lebih sesat lagi, al-A’raf ayat 179, karena binatang tidak memiliki akal dan manusia memiliki akal, orang yang memiliki akal tapi tidak menggunakan akalnya lebih rendah dari binatang dalam bahasa al-Quran.
Untuk itu kita memohon pada Allah swt agar terhindar dari kelalaian, khususnya pada bulan Rajab yang mulia ini, bulan yang Allah nisbahkan kepada diri-Nya, Rajab Syahrullah (Rajab adalah bulan Allah swt), bulan yang merupakan jembatan awal menuju bulan Ramadhan untuk menjadi tamu Allah SWT, bersiaplah dan memintalah, jadilah tamu terbaik-Nya.
Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan tuntunlah kami menuju bulan Ramadhan, bi rahmatika ya arhamarraahimin…
Oleh : Ahmad Baqir Al-Athas










