Mampus Israel!

Arbain, Abadikan Revolusi Imam Husein as untuk Selamanya

Pertama-tama saya mengucapkan terima...

Selengkapnya
Mampus Israel!

Relasi Kekuasaan dan Politisasi Agama

Perlu memahami sejarah dan geografi negara-negara timur tengah. Pahami sejarah pergulatan pemikiran internal...

Selengkapnya
Mampus Israel!

Doa Memohon Kesyahidan dari Sayyid Abbas Al-Musawi

Sayyid Abbas Musawi gugur syahid pada tanggal...

Selengkapnya
Mampus Israel!

Siapa Menghina Sahabat Rasulullah Sekutu Musuh Islam

Selama berada di Mesir, Presiden Ahmadinejad...

Selengkapnya

Top Stories

Dalam Sejarah Suriah, Tak Pernah Orang Bertanya "Apakah Anda Sunni atau Syiah?"

  • Minggu, 22 Desember 2013
  • Keluarga Sunni-Syiah Zahir & Lina (RT.com Photo/Nadezhda Kevorkova)
    IPABIonline.com - Masih berpikir perang di Suriah adalah perang agama? Bersiaplah mengubah pandangan Anda setelah mendengar kisah Zahir dan Lina, sepasang suami istri asal  Suriah ini.

    Kelompok militan asing yang turut memorakporandakan Suriah pasti tak peduli tentang hubungan antar-keyakinan yang berabad-abadterjalin di Suriah. Bahkan mungkin mereka tak sadar bahwa istri Presiden Bashar al-Assad adalah seorang Sunni. Mengakui hal itu akan menjungkirbalikkan gagasan dasar perang Suriah, di mana kelompok Sunni dikatakan berkonflik dengan kelompok Alawiyah dan Syiah.

    Kasus keluarga campuran Sunni-Syiah bukan monopoli Bashar al-Assad—di Suriah, pernikahan campuran seperti itu banyak sekali. Keluarga-keluarga inilah yang menjungkirbalikkan konsep “perang agama” antara Sunni-Syiah di Suriah. Dua setengah tahun upaya memecah belah Suriah atas dasar latar belakang agama praktis gagal total sebagian karena pernikahan campuran ini. 

    Coba saja kita temui suami-istri Zahir and Lina. Keduanya terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Homs, Suriah pada November 2011, dan kini tinggal di Lembah Beqaa, Lebanon. Apartemen mereka sempat menjadi sasaran rudal pada April lalu.

    Zahir seorang Sunni, Lina penganut Syiah. Lina mengenakan burqa khas Syiah yang berwarna hitam. Dia mengenakannya sejak saat masih tinggal di Suriah, juga saat berangkat mengungsi, yaitu ketika kaum militan di Suriah mulai melakukan pembunuhan terhadap kaum Syiah.

    Sepanjang hidupnya, Lina mengenal banyak sekali keluarga Sunni yang mendukungnya benar-benar karena dia seorang Syiah yang membutuhkan perlindungan. Baik Zahir maupun keluarganya, tak pernah mempertanyakan mengapa laki-laki itu menikahi seorang perempuan Syiah. Demikian juga keluarga Lina tak pernah mempertanyakan hal itu, meski kedua anak mereka mengikuti sang ayah sebagai penganut Sunni.

    Keluarga Zahir dulunya memiliki perusahaan kecil yang memproduksi tas tangan wanita. Dan di lokasi pabrik itulah perang Suriah berawal, menghancurkan sumber penghasilan keluarga tersebut. Semua tetangga Zahir yang Sunni kemudian mengungsi ke kawasan Syiah di Lebanon. 

    Waktu ditanya, mengapa keluarga dan tetangga-tetangganya yang Sunni tidak memihak pemberontak, Zahir menjawab: “Karena kami melihat bahwa para militan dan banditlah yang ada di sana—mendukung mereka jelas bukan pilihan. Yang memberontak sama sekali bukan warga yang tak puas dengan Bashar Assad, tapi para militan dan bandit.”

    “Dalam sejarah, tak pernah kami di Suriah mendengar orang bertanya, ‘Apakah Anda Sunni?’ atau ‘Apakah kamu Syiah?’” Ujar Zahir. Dia pun menambahkan, “Kalau kami persoalkan perbedaan Sunni-Syiah, tak akan mungkin saya menikah dengan istri saya ini.”

    Sumber : Islam Indonesia
    Continue Reading...

    Arbain, Abadikan Revolusi Imam Husein as untuk Selamanya

  • Kamis, 19 Desember 2013
  • IPABIonline.com - Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada kalian semua saudara dan saudari khususnya para ulama, keluarga para syahid, tawanan perang, pejuang yang belum ditemukan, veteran perang, kepada mereka yang mengabdi melayani kalian yang datang dari berbagai daerah dan berbagai lembaga. Saya berharap semoga lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan seperti Bulan Sabit Merah dan Lembaga Syahid tetap melanjutkan pengabdiannya yang berharga kepada orang-orang yang pada hakikatnya adalah kembang masyarakat kita. Semoga mereka dapat mengabdi dengan lebih baik dan melestarikan kenangan berharga para syuhada dalam berbagai aktifitas budaya, seni dan tabligh.

    Mengingat hari ini mendekati malam Arbain Sayyid As-Syuhada Imam Husein as saya akan menyampaikan beberapa tema yang ada kaitannya dengan usaha mulia demi menghidupkan kenangan dan nama syuhada di zaman kita.

    Pada prinsipnya, urgensi Arbain kembali pada langkah bijak yang dilakukan keluarga Rasulullah SAW. Langkah mereka ini sejatinya telah mengabadikan revolusi Imam Husein as. Bila keluarga syuhada dan pewaris asli Asyura yang masih hidup tidak berusaha melestarikan kenangan dan bekas-bekas syahadah di berbagai peristiwa seperti kesyahidan Imam Husein as di hari Asyura, generasi berikutnya pasti tidak mampu memetik banyak manfaat dari hasil-hasil syahadah tersebut.
    Benar, Allah SWT menghidupkan para syuhada di dunia ini dan dengan sendirinya syahid akan abadi dalam sejarah dan ingatan masyarakat. Namun sama seperti urusan lainnya, Allah tetap mengatur masalah ini secara alamiah dengan meletakkannya pada iradah dan kehendak kita. Kebulatan tekad yang benar dan tepat dari kitalah yang mampu menghidupkan dan melestarikan memori, kenangan dan filsafat syahadah.

    Bila Sayyidah Zaenab Al-Kubra as dan Imam Sajjad as di hari-hari ketika mereka ditawan; baik pada sore hari Asyura di Karbala maupun di hari-hari berikutnya di sepanjang perjalanan Syam, Kufah dan juga ketika mereka dikelilingkan di kota Syam begitu pula setelah itu pada saat mereka berziarah ke Karbala lalu kembali ke Madinah serta tahun-tahun berikutnya ketika kedua figur besar itu masih hidup, jika dalam rentang waktu itu mereka tidak berjuang mengungkap peristiwa Asyura, hakikat filsafat Asyura, tujuan Imam Husein as dan kezaliman yang dilakukan musuh terhadap beliau, sudah tentu peristiwa Asyura tidak akan hidup, bergelora dan tetap berkobar hingga hari ini.

    Mengapa Imam Shadiq as dalam hadisnya mengatakan, "Barang siapa yang membaca satu bait puisi tentang peristiwa Asyura dan membuat orang-orang menangis karena bacaan puisi tersebut, Allah pasti memasukkannya ke dalam surga"? Sebab, seluruh mesin-mesin propaganda musuh berusaha mengucilkan dan memadamkan semangat peristiwa Asyura serta menutup-nutupi pesan Asyura, bahkan secara keseluruhan mereka berusaha mengubur segala hal yang berbau Ahlul Bait, agar masyarakat tidak mengatahui apa yang sebenarnya terjadi. Hari-hari itu sama seperti yang terjadi di zaman kita. Kekuatan-kekuatan zalim berusaha sekuat tenaga memanfaatkan propaganda dengan berbohong, punya tujuan buruk dan penuh kelicikan. Dalam situasi yang demikian, apakah mungkin peristiwa Asyura yang begitu agung terjadi di padang pasir yang terpencil dari dunia Islam mampu bertahan, berdenyut dan tetap bergelora? Pasti kalau bukan karena jerih payah tersebut, Asyura telah terlupakan.

    Yang menghidupkan kembali memori Asyura adalah usaha keras mereka yang ditinggal Imam Husein bin Ali as. Perjuangan Sayyidah Zaenab as dan Imam Sajjad as serta pribadi-pribadi besar lainnya seberat perjuangan yang dilakukan oleh Imam Husien bin Ali as dan sahabat-sahabatnya sebagai pengibar bendera perjuangan. Bedanya, medan yang dihadapi bukan lagi medan pertempuran, tapi medan propaganda dan budaya. Kita harus perhatikan poin-poin ini.

    (Petikan pidato Rahbar dalam pertemuan dengan berbagai lapisan masyarakat tanggal 20 September 1989)

    Sumber : khamenei.ir
    Continue Reading...

    Relasi Kekuasaan dan Politisasi Agama

  • Jumat, 22 November 2013
  • IPABIonline.com - Perlu memahami sejarah dan geografi negara-negara timur tengah. Pahami sejarah pergulatan pemikiran internal masing-masing mazhab Sunni maupun Syiah. Pergulatan antar mazhab dan antar kerajaan. Internal Syi’ah sendiri terjadi pergulatan pemikiran antara Syi’ah Ali dan Syi’ah Shafawi. Antara Syi’ah Ushuli dan Syi’ah Akhbari.

    Kita juga harus menelaah dengan teliti sejarah modern negara-negara Sunni (Turki, Saudi, Sudan, dan lain-lain), dan Syi’ah (Iran, Iraq, dan Bahrain).

    Iran di masa Shah Iran merupakan anak emas Amerika dan mempunyai hubungan mesra dengan Saudi dan Israel sebagai sesama anak emas. Masa-masa itu tidak ada isu Sunni Syiah. Padahal kedua mazhab ini sudah ada sejak seribuan tahun yang lalu.

    Revolusi Islam Iran merubah konstelasi keseimbangan kekuatan. Revolusi menjungkirbalikkan keadaan. Iran berubah jadi anti Amerika. Hubungan diplomatik putus dengan Amerika dan Israel. Kantor kedutaan Israel diambil alih dan diberikan ke Palestina di bawah Yasser Arafat yang sebelumnya tidak punya hubungan diplomatik dengan Iran di bawah Syah. Kantor kedubes Amerika diduduki oleh mahasiswa militan Iran dan mereka berhasil menyita ribuan halaman dokumen rahasia yang berisi jaringan dan aktifitas Amerika di seluruh dunia dan khususnya kejahatan intelijen AS di dalam negeri Iran. Terjadi krisis penyanderaan diplomat.

    Amerika di bawah Presiden Jimmy Carter melakukan operasi penyelamatan sandera menyerang Iran dengan operasi bersandi “Operation Evening Light” bagian dari proyek “Blue Light” tapi gagal dan mempermalukan reputasi Amerika di dalam dan di luar negeri. Amerika lalu merubah strategi a.l. --secara langsung maupun tidak langsung-- mendukung kelompok teroris domestik Iran Mujahidin Halq dan Furqon (kelompok sosialis marxis yang menyalahgunakan Al-Qur'an dan ajaran Islam sebagai argumen pembenaran ideologi mereka), melakukan berbagai tindakan teroris dan 'Political Assassination' terhadap tokoh-tokoh Revolusi Islam Iran seperti Bahonar, Bahesti, Murthadha Muthahhari, dan lain-lain. Gedung parlemen Iran dibom dan menyebabkan jatuhnya banyak korban. Ali Khamenei pun dirancang untuk dibunuh dengan menaruh bom di mimbar khutbah beliau yang kemudian meledak dan melukai beliau dan membuatnya cacat kehilangan lengan kanannya.

    Iran dikucilkan, diembargo, dana yang berjumlah milyaran dollar yang tersimpan di berbagai lembaga keuangan AS dibekukan. Irak yang selama ini merupakan ancaman bagi negara-negara Arab tetangganya karena ideologi sosialis Bath-nya yang dilindungi oleh Uni Soviet kemudian diprovokasi untuk menyerang menginvasi Iran. Maka terjadilah perang yang dipaksakan atas Iran (1980-1988). Dimana Irak menikmati dukungan dana dan persenjataan dari hampir semua negara Barat (Amerika, Eropa dan Uni Soviet) dan Arab, minus Suriah.

    Sejak pecahnya perang Irak-Iran itulah isu Sunni-Syiah mulai digulirkan untuk mengesankan bahwa Iran itu bukan Islam, walau pun jelas-jelas Iran adalah anggota OKI, Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Dunia), IDB (Islamic Development Bank), dan berbagai organisasi kerjasama Islam lainnya. Ulama-ulama Islam di Indonesia sempat menyambut revolusi Islam Iran sebagai permulaan dari era kebangkitan Islam yang dinanti-nantikan. Namun isu ekspor Revolusi Islam Iran membuat banyak pemerintah dunia Islam jadi was-was, termasuk Indonesia dan negara-negara monarki Arab. Tidak dipungkiri bahwa di kalangan anak muda Islam di Indonesia terjadi demam Revolusi Iran, banyak di antara mereka yang mengimpikan terjadi revolusi yang sama di negeri mereka, tanpa pemahaman yang benar, padahal latar belakang tradisi dan budaya serta situasi sama sekali jauh berbeda. Di pihak Iran pun memang ada pihak-pihak yang sangat bersemangat untuk mengekspor revolusi mereka. Saya sempat terlibat dalam debat yang sengit dengan mereka yang berpikir bahwa ekspor-impor revolusi itu mungkin bahkan harus dilakukan. Saya berada di pihak menolak ide tersebut, namun agen intelijen Indonesia (saat itu) menuduh saya sebaliknya.

    Maka dimulailah upaya untuk membendung pengaruh Iran dengan mengangkat Isu Sunni-Syiah yang disponsori terutama oleh Arab Saudi melalui Maktab Agamanya di seluruh dunia khususnya di Indonesia dengan mencetak jutaan eksemplar buku-buku yang mendiskreditkan Syiah dengan berbagai tuduhan fitnah. Mereka mendekati institusi keagamaan tertentu dan tokoh-tokoh ulama tertentu untuk mendukung misi ini. Milyaran riyal Saudi dialirkan untuk “membeli” ulama tertentu, membentuk dan mengakuisisi lembaga-lembaga Islam tertentu yang mendukung misi tersebut dan mengakuisisi ormas-ormas Islam yang sudah mempunyai akar dan nama di masyarakat Islam Indonesia.

    Mereka juga mengirim sejumlah ulama ke Indonesia untuk menyebarkan bahaya dan kesesatan bahkan kekafiran Syiah, padahal mereka (Saudi Arabia) menikmati uang milyaran dollar dari jutaan jemaah haji dan umrah Syiah di seluruh dunia yang datang berhaji dan umroh ke Makkah dan Madinah setiap tahun.

    Bahwa jutaan jamaah Syiah dari berbagai negara dan kebangsaan meramaikan ritual umrah maupun haji di kedua tanah Suci. Bahwa negara-negara yang berpenduduk mayoritas Syiah seperti Iran, Irak, dan Bahrain adalah anggota OKI, Rabithah Alam Islam, dan Islamic Development Bank, dan lain-lain. Semua fakta ini sengaja diabaikan demi kepentingan politik duniawi yang rakus dan kejam. Agama jadi alat pembenaran untuk pembunuhan dan peperangan. Berbagai isu dan fitnah direkayasa dan dipublikasikan.

    Tiga puluh empat tahun Iran mengalami pengucilan, blokade dan embargo, perang yang dipaksakan dan berbagai sanksi. Ternyata ini semua tidak melemahkan Iran bahkan Iran menjadi salah satu negara yang mencatat percepatan pertumbuhan sains dan teknologi yang tertinggi di dunia. Ini mengkhawatirkan musuh-musuh Iran khususnya Israel, dan sekutu-sekutunya. Maka direkayasalah isu baru yaitu isu senjata nuklir yang mana sudah berulangkali ditegaskan oleh pihak Iran bahwa proyek nuklirnya adalah untuk tujuan damai. Bahwa senjata nuklir dan pemusnah massal lainnya adalah haram menurut fatwa para ulama Iran. Pihak Barat tidak percaya dan terus menekan Iran dengan berbagai sanksi ekonomi yang lebih berat.

    Saat ini perang urat syaraf tetap berlanjut dan ancaman serangan militer semakin massif. Israel dan Saudi kecewa dengann adanya perubahan dalam sikap presiden Obama terhadap perubahan kebijakan Iran di bawah Presiden Iran yang baru Hassan Rouhani, dimana langkah perundingan dihidupkan kembali. Kelompok ini bekerjasama untuk menyabot perundingan nuklir Iran dan memprovokasi dunia untuk melakukan tindakan militer setelah berbagai sanksi untuk melumpuhkan ekonomi Iran. Berbagai upaya telah dilakukan dengan memanfaatkan DK PBB.

    Harapan Israel dan Oknum pejabat tinggi Saudi (dalam hal ini, terutama pihak Bandar bin Sultan yang bertindak sendiri tanpa kordinasi dengan Raja Abdullah) untuk segera menggempur Iran secara militer menjadi pupus. Saudi (Bandar bin Sultan) menunjukkan kekecewaannya antara lain dengan menolak kursi anggota Dewan Keamanan PBB. Bandar dijadikan pintu masuk Israel untuk mengobok-obok dunia Islam mulai langsung dari jantungnya Mekkah dan Madinah. Bencana Perang saudara pun membayangi Saudi, biasanya untuk menyatukan pihak-pihak yang bertikai dibuatkan musuh bersama dari luar, dalam hal ini, Iran sangat tepat untuk dijadikan sasaran bersama.

    Untuk memuluskan rencana aksi militer dan untuk mengantisipasi reaksi kesetiakawanan yang muncul dari dunia Islam maka soft war yaitu perang disinformasi terhadap mazhab Syiah dengan berbagai rekayasa fitnah adu domba terus menerus ditingkatkan. Baik kalangan Syiah maupun Sunni disusupi agen yang melakukan misi penyesatan melalui dunia maya dan media online serta televisi dan buku-buku yang memecah belah, sedang secara fisik direkayasa pemboman ke masing-masing pihak dengan teknik adu domba sambil memanfaatkan orang-orang yang lemah dan bodoh dari masing-masing pihak untuk memicu kemarahan, kekerasan dan melahirkan rantai balas dendam dan lingkaran setan yang tidak berujung.

    Selain itu metode proxy war pun diterapkan dengan mendukung dan memfasilitasi kelompok garis keras, teroris dan ekstrimis Islam seperti al-Qaida dan kawan-kawan untuk diadu dengan sesama Islam. Ini strategi bermata dua, ke dalam merusak kerukunan dan kesatuan umat, ke luar merusak citra Islam sebagai agama kekerasan, kejam, dan anti damai. Ini memuluskan proyek stigmatisasi Islam sebagai agama teror. Sebagaimana yang dipertontonkan saat ini di Suriah, Irak, Libya, Somali, Pakistan, Afganistan, dan lainnya.

    Bangsa Indonesia harus waspada dan cermat kritis atas perkembangan dunia yang sedang berlangsung. Masalahnya fulusiologi. Faqir (Kemiskinan) itu mendekatkan kepada Kufr (Kekafiran). Fulus bikin semua mulus. Pseudo Fatwa pun dikeluarkan demi fulus. Nilai samhah (toleran) dalam Islam pun diinjak-injak. Milyaran riyal telah menyumpal oknum ulama dan aparat pemerintah Indonesia. Lumayan membuat ekonomi untuk sementara bisa bertahan. Tapi waspadalah, karena dampaknya yang merusak dan menghancurkan semua capaian ekonomi kita dalam waktu singkat.

    Intoleransi dan kekerasan atas nama agama adalah musuh kemanusiaan.

    Penulis : Ustadz Agus Abu Bakar Arsal Al-Habsyi
    Continue Reading...

    Kunci Gerbang Muharam

  • Rabu, 30 Oktober 2013
  • IPABIonline.com - Manusia memerlukan persiapan untuk menghadapi segala sesuatu yang dituju, karena persiapan akan menjadikannya yakin dan mantap dalam menjalani sesuatu tersebut, misalkan suatu tim sepakbola akan menghadapi tim lawan dalam piala dunia, mereka akan bersiap dengan berlatih keras agar memenangkan pertandingan. Beberapa hari lagi kita akan menghadapi pintu gerbang Muharam yang di dalamnya terdapat madrasah yang sangat luas, dimulai dari kesetiaan, kesabaran, keberanian, pengorbanan, dan sebagainya.

    Dunia adalah madrasah, manusia adalah pelajar, dan Imam Husain as adalah sang guru, pelajarannya adalah kemuliaan. Semua ini tidak akan dapat diraih tanpa persiapan yang matang.

    Ahlulbait as mengajarkan kepada kita bagaimana harus melakukan persiapan, mereka adalah adzikr wujud dari ayat “Fas alu ahladz-dzikri in kuntum la ta’lamun”, kita akan bertanya kepada mereka bagaimana kita harus bersiap guna memasuki gerbang Muharam.

    Dalam kitab Bihar al-Anwar jilid 98 dikutip sebuah riwayat tentang perkataan Imam Jafar Ash-shadiq as ketika berziarah kepada Aba Abdillah al-Husain as, Imam Shadiq as berkata, “Sebelum berziarah kepada Al-Husain bacalah subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wa llahu akbar 7x, kemudian bacalah labbayka ya da’iyallah (aku menyambutmu wahai penyeru agama Allah) sebanyak 7 x.”

    Kemudian Imam as berkata, “Wahai Abu Abdillah! Meski tubuhku tak bersamamu -ketika engkau menyeru hal min nashirin yanshuruni-  tapi aku menyeru sambutanmu dengan hatiku, telingaku, mataku, fikiranku, dan kehendakku untuk tunduk di hadapanmu.”

    Dapat kita simpulkan dari perkataan Imam as bahwa  ada lima macam persiapan untuk kita jika ingin bertemu Aba Abdillah al-Husain as, yaitu:

    1.    Persiapan Hati
    Seorang yang ingin memasuki madrasah Al-Husain di bulan Muharam harus membersihkan hatinya dari segala penyakit dan dosa, seperti hasud, dengki, suka pamer (ria), emosi brutal, dan penyakit hati lainnya yang dapat menghalangi kita dari pelajaran yang ada dalam madrasah agung Muharam ini, karena yang diajarkan dalam madrasah ini adalah kemuliaan, dan orang-orang mulia adalah orang yang bertaqwa, Allah SWT berfirman, ”yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa”. Jadi, syarat pertama memasuki gerbang Muharam adalah kesucian hati dengan ketakwaan, orang yang tidak membersihkan hatinya tidak akan bisa menyerap hakikat kemuliaan. Dalam doa mandi sunnah bulan ini diriwayatkan sebuah doa yang berbunyi ”Allahumma thahhir qalbi”, yang artinya, “Ya Allah sucikanlah hatiku.

    2.    Persiapan Telinga
    Terkadang seorang terjebak dalam menggunjing saudaranya sendiri, dalam riwayat disebutkan bahwa orang yang mendengarkan gunjingan sama seperti yang menggunjing. Allah SWT mencela orang yang suka menggunjing dan mengumpamakannya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri, maksud dari analogi tersebut, karena seorang yang digunjing tidak ada di hadapan kita dan tidak mampu membela dirinya, untuk itulah seseorang yang digunjing dikatakan seperti mayat yang dimakan oleh saudaranya; tak selayaknya seorang yang memakan bangkai saudaranya memasuki madrasah suci Muharam, mari kita mensucikan telinga kita dari ghibah.

    3.    Persiapan Mata
    Pemandangan Muharam hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang mensucikan matanya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT, milikilah mata Sayyidah Zainab al-Kubra as tatkala menjawab ejekan Yazid dengan perkataan, “Aku tidak melihat –dalam tragedi Karbala- kecuali keindahan”.  Sucikanlah mata kalian sehingga engkau mampu meneteskan air mata keikhlasan untuk al-Husain as,yang dijanjikan bahwa airmata tersebut akan menjamin kita dari api neraka.

    4.    Persiapan Pikiran
    Pesiapkanlah pikiran kita, perbaharuilah ikatan janji setia dengan Imam Husain as bahwa kita sungguh-sungguh dalam mengatakan, “Inni silmun liman salamakum wa harbun liman harobakum”. Ya Husain aku berdamai dengan orang yang berdamai denganmu dan aku berlepas diri dari orang yang memerangimu.

    5.    Persiapan Perasaan dan Keinginan
    Terkadang seseorang ingin melakukan suatu kebaikan akan tetapi kehendak dia lemah sehingga terkalahkan oleh rasa malas atau terhalang oleh suatu kepentingan. Pelajaran madrasah Muharam adalah pelajaran yang memerlukan tekad yang kuat, sebagaimana kepedulian dan pengorbanan yang diajarkan oleh Abul Fadhl Abbas dan al-Hur ar-Riyahi, tanpa memperkuat tekad kita tidak akan pernah dapat memahami seberapa besar pengorbanan mereka, bacalah al-Quran di manapun dan kapanpun, sebutlah nama Abu Abdillah al-Husain ketika hendak meminum air, tambahlah makrifah (pengetahuan) dengan kajian keilmuan, karena hal tersebut dapat memberikan kekuatan kepada tekad kita dalam melakukan kebaikan.

    Nasihat Imam Ali Ar-Ridha kepada Rayyan bin Syabib ketika memasuki Bulan Muharam

    1.    Berpuasalah
    Rayyan bin Syabib (salah seorang sahabat Imam Ridha as) meriwayatkan: Suatu hari di awal bulan Muharam dia bertemu dengan Imam Ridha as, kemudian mereka berbincang.

    Imam as, “Wahai putra Syabib apakah anda berpuasa hari ini?”

    Ibnu Syabib, “Tidak wahai Imam.”

    Imam as, “Tahukah Anda bahwa Nabi Zakariya as berpuasa di hari pertama bulan Muharam agar Allah menganugerahkan padanya keturunan (Nabi yahya as)!  Wahai putra Syabib jika Anda berpuasa di hari ini niscaya Allah akan mengabulkan segala doamu.

    2.    Menangislah untuk al-Husain
    Imam Ridha as berkata, “Wahai putra syabib! Jika engkau menangisi al-Husain as sehingga airmatamu mengalir di pipimu, Allah SWT akan mengampuni seluruh dosamu.”

    Perlu ditegaskan bahwa hadis ini tidak bermaksud untuk melegitimasi seseorang untuk berbuat dosa semaunya karena dosa tersebut dapat dihapus dengan airmata untuk al-Husain as, akan tetapi maksud dari tangisan tersebut adalah tangisan yang dapat mereformasi jiwa dari kekafiran menjadi ketaatan, dari kemusyrikan menjadi tauhid, dan dari kemaksiatan menjadi ketakwaan, sebagaimana yang ditunjukan oleh Raja Najasyi ketika dibacakan surat Maryam oleh utusan Rasulullah saw untuk Habasyah, dia menangis meneteskan airmata, yang kemudian airmata itu menghapus kemusyrikannya dan dia pun masuk Islam.

    3.    Ratapilah  Al-Husain dalam segala musibah
    Imam Ridha as berkata, “Wahai putra Syabib! Jika engkau bersedih karena suatu musibah maka ratapilah al-Husain as.”

    4.    Ziarahilah al-Husain as
    Imam Ridha as berkata, “Wahai putera Syabib! Jika Anda ingin bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan suci tanpa dosa, ziarahilah al-Husain as.”

    5.    Berlepas diri dari para pembunuh al-Husain as
    Imam Ridha as berkata, “Wahai putera Syabib! Jika engkau ingin tinggal di surga, berlepas dirilah dari para pembunuh al-Husain as.”

    6.    Ucapkanlah “Ya laytana kunna ma’akum…”
    Imam Ridha as berkata, “Wahai putera Syabib! Jika Anda ingin dibangkitkan bersama para syuhada Karbala, setiap mendengar nama al-Husain as, keluarga, dan para sahabatnya, ucapkanlah, ‘Ya laytani kuntu ma’akum  fa afuza fawzan adzhima’, oh seandainya dulu aku berada di Karbala bersamamu niscaya aku beruntung.”

    7.    Rasakanlah perasaan kami (Ahlulbait)
    Imam Ridha as berkata, “Wahai putera syabib! Jika engkau ingin berada di surga bersama kami bersedihlah atas musibah kami, dan berbahagialah dengan kebahagiaan kami.”


    Pentingnya Mengadakan Majlis Duka untuk Abu Abdillah As
     
    Kisah Di’bil Al-Khuzza’i
    Suatu hari Di’bil al-Khuzza’I  salah seorang sahabat Imam Ridha as yang masyhur dengan syair-syairnya melihat Imam as sedang duduk dalam keadaan mata berlinang airmata, diapun menghampiri Imam as dan berkata, “Salam atasmu wahai Imam, apa yang dapat aku lakukan untukmu?” Imam as berkata, “Adakanlah majlis ‘aza dan bacakanlah syair tentang musibah Abu Abdillah as, Di’bil meng-iyakan perkataan Imam as. Lalu Imam as berkata, ”Tunggu sebentar”, Imam as pun beranjak dari tempat duduknya dan mendirikan tenda serta membagi tempat buat laki-laki dan perempuan untuk khidmatnya majlis duka Abu Abdillah as. Imam Ridha as sendiri menyediakan segala sesuatu untuk terselenggaranya majlis duka, dan kelak menjadi contoh bagi para pecinta setelahnya.

    Kisah Misma’
    Misma’ adalah seorang sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq as, suatu hari dia pergi menemui Imam as,
    Imam as berkata, ”Dari mana asalmu?”
    Misma’,”Aku dari Iraq”.
    Imam as, “Apakah engkau pergi berziarah ke makam Abi Abdillah al-Husain as?”
    Misma’, “Tidak wahai Imam, karena aku tinggal di Bashrah, dan aku merupakan orang terkenal di sana, jika aku pergi berziarah mereka akan membunuhku.”
    Imam as, “Apakah Anda mengadakan majlis duka untuk mengingat musibah al-Husain?”
    Misma’, “Iya wahai Imam, aku menangis dan tenggelam dalam kesedihan sampai-sampai karena itu aku tidak ingat makan dan minum.”
    Imam as pun meneteskan airmata dan akupun menangis karenanya.

    Oleh : Sayyid Ahmad Bagir Al-Athas (Mahasiswa S1 Jurusan Ulumul Quran di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran)
    Continue Reading...

    Sayyid Ali Khamenei: Masyarakat Islami Harus Mengikuti Ajaran Al-Qur’an

  • Kamis, 11 Juli 2013
  • IPABIonline.com - Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Rabu (10/7) sore di hari pertama bulan suci Ramadhan menghadiri majlis al-Qur'an. Majlis yang dipenuhi oleh aroma maknawiyah yang kental dan dihadiri oleh puluhan qari, hafidz dan guru-guru al-Qur'an itu berlangsung selama tiga setengah jam.

    Dalam acara itu, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut tilawah, tajwid dan penghapalan al-Qur'an sebagai mukaddimah untuk membentuk masyarakat ideal yang Qur'ani. Beliau mengatakan, "Masyarakat Islam harus didominasi oleh hidayah dari al-Qur'an dan gaya hidup yang islami."

    Rahbar juga menyatakan bahwa tilawah dan hifdzul Qur'an adalah langkah awal untuk memahami al-Qur'an dan berperilaku dengan akhlak Qur'ani. Beliau menambahkan, "Budaya masyarakat Islam harus sesuai dengan akhlak Qur'ani dan ajaran dari Nabi dan para imam yang maksum (as)."

    Menyinggung adanya upaya dari berbagai pihak untuk menyebarkan pengaruh budaya Barat dalam kehidupan dan hubungan sosial masyarakat, Pemimpin Besar Revolusi Islam menandaskan, "Langkah kebanyakan orang di dunia yang mengikuti budaya Barat tidak bisa dijadikan alasan bahwa masyarakat yang Islami juga harus mengikuti budaya itu."

    Beliau menambahkan, "Dalam masyarakat yang islami, petunjuk dan nilai-nilai ajaran al-Qur'anlah yang harus diikuti."

    Lebih lanjut Ayatollah al-Udzma Khamenei menandaskan, "Nilai-nilai ajaran al-Qur'an yang harus menjadi acuan dan tolok ukur untuk diikuti di tengah masyarakat yang Islami adalah agama, akal yang sehat dan hadis-hadis yang disabdakan oleh maksumin (as)."

    Di bagian akhir pembicaraannya, Rahbar menyatakan gembira atas ketertarikan para pemuda yang semakin besar kepada al-Qur'an dan tilawah al-Qur'an. Beliau mengatakan, "Semua orang harus memupuk hubungan yang akrab dengan al-Qur'an. Sebab, membaca dan memahami al-Qur'an adalah mukaddimah untuk merenungkannya."

    Sumber: Khamenei.ir
    Continue Reading...

    Menjadi Pengungsi di Negeri Sendiri, Pegowes Syiah Sampang: Kami Ingin Pulang!

  • Selasa, 18 Juni 2013
  • IPABIonline.com - Sejak peristiwa penyerangan pada Agustus 2012 lalu, sudah sembilan bulan warga Syiah diterlantarkan di GOR Sampang oleh pemerintah tanpa kepastian. Karena itulah sejak awal Juni 2013 sepuluh orang perwakilan mereka melakukan aksi Gowes Kemanusiaan 850 kilometer Surabaya-Jakarta. Setelah 16 hari bersepeda mereka tiba di depan Istana Negara pada hari Minggu, 16 Juni 2013 dengan membawa satu tuntutan utama: bertemu dan menagih janji SBY, menuntut hak mereka pulang ke kampung halaman dengan aman dan damai. Pegowes bertekad akan tetap bertahan di Jakarta sampai SBY menemui dan mengabulkan tuntutan itu.

    Sepanjang perjalanan, ke sepuluh korban kekerasan dan diskriminasi agama serta keyakinan itu disambut aktivis HAM dan Demokrasi serta singgah berdiskusi dan memberikan testimoni tentang kekerasan yang menimpa mereka kepada publik. Melalui aksi Gowes Kemanusiaan tersebut, beberapa lembaga penting di tiap kota besar sepanjang rute perjalanan telah disinggahi. Diantaranya Universitas Diponegoro, Universitas Wahid Hasyim, beberapa rumah dinas Bupati, pondok pesantren dan rumah tokoh ulama NU, serta sejumlah kantor LSM yang peduli terhadap perjuangan mereka dalam menegakkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

    Selain tujuan utama bertemu langsung Presiden SBY dan menyerahkan surat terbuka berisi tuntutan minta pulang dan menolak relokasi, di Jakarta para pegowes dijadwalkan bertemu Wantimpres, Mendagri, DPR RI, Kemenag, KPAI, Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan lembaga terkait lainnya.

    Atas nama pengungsi Syiah Sampang, sebagai aliansi yang sejak awal mendampingi dan mengadvokasi kasus Sampang, KontraS, YLBH Universalia, AMAN Indonesia, Elsam, ANBTI, Sejuk, dan lainnya menuntut dan menagih janji SBY dalam pernyataan resmi pasca peristiwa Sampang I dan II, bahwa Presiden akan memberi perhatian khusus atas penuntasan/penanganan kasus tersebut. Sembilan bulan telah lewat sejak janji itu terucap. Faktanya, sampai detik ini pengungsi Syiah masih mendekam dan terpenjara di GOR Sampang. Tentu Presiden SBY selaku Presiden Republik Indonesia tak pantas mengelak untuk mendengar keluhan tiap warga negara Indonesia dalam menuntut haknya yang sah berupa perlindungan atas raga, nyawa, harta dan tempat tinggal mereka sebagaimana diatur dan dijamin oleh konstitusi.

    Disisi lain, KontraS, YLBH Universalia, AMAN Indonesia, Elsam, ANBTI, Sejuk, dan lainnya berpandangan bahwa Presiden juga terikat janjinya kepada dunia internasional untuk melindungi warga  negara Indonesia dari setiap kekerasan dan diskriminasi agama dan keyakinan karena pada akhir Mei yang lalu SBY telah bersedia menerima World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation (AAF), sebuah yayasan antara agama yang berbasis di New York. Karena itu, selaku presiden sebuah negara yang dianggap berhasil mengembangkan kehidupan toleran sudah sepantasnya SBY membuktikan bahwa dirinya pantasdan layak menerima penghargaan tersebut.

    Pengungsi Syiah Sampang yang terlantar dan dipaksa menjadi pengungsi di negeri sendiri, dan terancam intimidasi terkait relokasi, adalah ujian serius bagi pemenuhan janji SBY. Inilah kesempatan emas bagi Presiden NKRI itu membuktikan kelayakannya menerima award toleransi tersebut. Sebaliknya, bila relokasi inkonstitusional itu dianggap sebagai satu-satunya solusi bagi warga Syiah Sampang agar mereka diusir keluar dari kampung halamannya, sementara SBY diam tak peduli bahkan terkesan merestui, maka dapat dipastikan bahwa selaku Kepala Negara, SBY telah menciderai rasa kemanusiaan dan melanggar konstitusi.

    Jakarta, 17 Juni 2013
    Aliansi Solidaritas Kasus Sampang
     
    Sumber: lbhuniversalia.org
    Continue Reading...

    Berita Terbaru

    Report

    Catatan

     
    Copyright © 2012-2013 IPABI Foundation. All Right Reserved.
    Unit IPABI : HUSAINIYAH | HAUZAH | IMAN | PERMABI | HW | TPQ | MT. MAHDAWIYAH.