Untuk Siapakah Syafaat Nabi dan Ahlul Baitnya? (Bagian 1)

Print Email and PDF
  • Kamis, 17 November 2011
  • in
  • Labels:
  • Foto by Mehdi Dorostkar.
    Ma'ad (Hari Akhir) adalah situasi kebangkitan, yang kita nanti di Yaumil Mahsyar, di hari yang pada saat itu seluruh manusia dikumpulkan, ditampakkan kepada mereka semua tentang keadilan, dalam bentuk mahkamah-Nya, dan saat itu pula, dalam riwayat semua manusia itu dalam keadaan penuh kebimbangan. Maka dari itu untuk menentramkan seseorang yang mengimani tentang Tauhid, ada hal yang sangat penting dan menggembirakan untuk manusia yaitu adanya syafaat.

    Syafaat adalah sesuatu yang sering kita ucapkan dengan bertawasul kepada Rasulullah SAWW dan Ahlul Baitnya, dengan mengucapkan: “Ya wajihan 'indallah, isfya'lana 'indallah”, syafaat secara bahasa memiliki pengertian as-sauj (pasangan), atau lawan kata dari witir wassyaf’i wal witr yaitu lawan dari esa/ganjil, secara istilah berarti permohonan seseorang yang yang mulia kepada sosok tau sesuatu yang lebih mulia untuk mengampuni kesalahan seorang hamba atau mengurangi kesalahan orang tersebut. Dari sisi hukuman seseorang menempati Jahanan selama 10 tahun , maka dengan syafaat itu menjadi kurang. Keyakinan akan syafaat ini bukan keyakinan yang dimiliki kaum muslimin secara kesuluruhan, karena kita akan berjumpa dengan kelompok lain dari keluarga besar kaum muslimin yaitu segolongan mereka yang menolak akan adanya syafaat, bahkan mengatakan bahwa syafaat itu masuk dalam kategori syirik, dengan dalil bahwa yang memiliki syafaat hanyalah Allah SWT, walillahi syafaatu jami’an (Allah SWT yang memiliki syafaat), selain Allah SWT tidak ada. Atau dalam ayat QS: al-Baqarah ayat 38 Allah SWT mengatakan: “Hari itu seseorang tidak akan mampu atau amal mereka tidak akan diterima dan syafaat siapa pun tidak akan diterima”, ini dalail untuk orang-orang yang membantah adanya syafaat (Wahabi) yang dinisbahkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab, atau dalam Teologi disebut aliran as-Salafi, mereka menolak akan adanya syafaat, sehingga efek dari penolakan itu cukup banyak diantaranya ada sebuah kasus, ada seorang ayah dan anaknya datang ke rumah salah satu orang (keluarga Tasyayu), mereka menangis ketika mengetahui bahwa nanti tidak ada syafaat, artinya kebersamaan mereka antar orang tua dan anaknya, apakah mungkin bisa terjadi kembali, dirasakan kembali ketika nanti di yaumil mahsyar, karena kalau mereka mengandalkan amal dari hasil ikhtiarnya, maka mereka tidak berani, bahwa andalan itu tidak akan mampu meloloskan mereka dari azab Allah SWT.

    Apa efek dari kesalahan seseorang yang memahami agama, sehinggga membuat keterputusasaan, maka dari itu hal yang berkenaan mengenai ilmu, kita akan mendapati dua hal yang keliahatannya atau tampaknya sangat kontradiktif, di satu sisi kita harus banyak mendengar tanpa melihat siapa pun yang berbicara. “undzur ila ma qaal walaa tandzur ila man qaal”, yang artinya perhatikan, camkan, simak apa yang disampaikan dan engkau tidak usah melihat siapa yang berbicara). Apakah hadis ini untuk setiap hal, jadi siapa yang berbicara kita harus didengarkan dan kita terima tanpa kita melihat siapa yang berbicara.

    Menurut Ahlul Bait hadis ini memang shahih (siapa yang berbicara kita harus dengarkan) bahkan “hudzil hikmah walau min ro’s majhur” ambil hikmah walau keluarnya dari seorang gila, namun dalam ayat lain Imam Ja’far as Shodiq as menafsirkan: “faa yandzuril insanu ila tha’aamih” selayaknya manusia melihat apa yang ia makan (masuk ke dalam perutnya). Abu Hanifah ditanya oleh Imam Ja’far as Shadiq as: “Ya abu Hanifah apa yang anda maksud dengan to’am di sini? Ia menjawab: melihat atau mendeteksi makanan yang masuk, halalkah ia atau tidak? Apa jawab Imam Shadiq as: itu sangat sulit untuk setiap orang melakukan tha’am”, tha’am di sini adalah ilmu yang ia dapati, penafsiran yang ada di Ahlul Bait adalah bahwa kita harus mengecek ilmu itu datangnya dari mana.

    Untuk mengumpulkan informasi itu, seluruh orang berbicara walaupun ia seorang gila, tetapi ketika informasi itu kita jadikan ilmu dan ilmu itu ketika kita ingin terapkan dalam amal kita, maka kita tidak boleh mendengarkan sembarang orang sebab ketika ia salah maka kita akan tergelincir, dari siapa kita dapat ilmu, ilmu yang didapat dari guru yang memang reprensentatif atau memiliki tanggung jawab keagamaan yang suci. Yang namanya ilmu itu konsumsi gizinya rohani, kalau kita salah mengkonsumsinya maka jelas akan sangat berpengaruh, oleh karena itu penting sekali kita mengecek siapa yang berbicara dalam persoalan mazhab dan aqidah ini.

    Begitu pun ketika kita salah (tidak adanya deteksi terhadap segala sesuatu yang kita terima) maka jelas akan menjadikan seseorang frustasi . Dengan adanya syafaat membuka pintu harapan menjadi lebar untuk seorang hamba, sebagaimana sering kita kaji, bahwa kalau dengan keadilan Allah SWT seseorang dihukum, maka niscaya tidak ada satu pun dari umat ini yang berhasil lolos dari jahanam-Nya Allah SWT (azab Allah SWT). Tentunya selain dari manusia yang disucikan Allah SWT, dengan kata lain bahwa kita untuk memiliki harapan mencicipi nikmat Allah SWT (jannah-Nya) sangat kecil sekali peluangnya, target kita adalah jannah-Nya Allah SWT, namun kita masuk ke neraka, maka inilah perpisahan antara kita dengan Tuhan.

    Bersambung...
     
    Copyright © 2012-2013 IPABI Foundation. All Right Reserved.
    Unit IPABI : HUSAINIYAH | HAUZAH | IMAN | PERMABI | HW | TPQ | MT. MAHDAWIYAH.