Kedudukan Rasulullah Saw Dalam Al-Quran

Print Email and PDF
  • Minggu, 22 Januari 2012
  • in
  • Labels:
  • Oleh: Allamah Sayyid Kamal Haidari

    Segala puji bagi Allah SWT. Dan kepada-Nya kami memohon pertolongan. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Baginda Rasulullah saw dan ahlul baitnya yang suci. Allah SWT berfirman dalam Kitab suci-Nya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al Ahzab: 40 )

    Pertama-tama kami ucapkan selamat kepada umat Islam dan semua manusia atas kelahiran Rasulullah saw yang diutus sebagai rahmat atas alam semesta dan begitu juga kelahiran Imam Ja`far ash-Shadiq as. Pada kesempatan yang berbahagia dan berharga ini, kami akan mencoba mengupas beberapa hal yang berhubungan dengan keutamaan Rasulullah saw di dalam Al-Quran al Karim. Salah satu hakikat yang disebutkan dalam Al-Quran adalah bahwa kita harus mengimani semua nabi dan rasul. Sebagaimana Anda temukan dalam akhir-akhir surah al Baqarah, yaitu: "Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya." (QS. al Baqarah: 285 )

    Ini adalah hakikat yang ditetapkan oleh Al-Quran. Yakni bahwa setiap manusia harus mengimani semua nabi dan rasul yang diutus oleh Allah SWT untuk menyelamatkan manusia. Namun ini tidak berarti bahwa Al-Quran tidak mengisyaratkan perbedaan derajat di antara para nabi dan rasul. Memang benar bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan siapapun di antara rasul-rasul-Nya, tetapi apakah ada perbedaan di antara para nabi dalam hal maqam kedekatan dengan Allah SWT atau tidak? Al-Quran pun dengan jelas menyebutkan hal ini kepada kita, yaitu dalam ayat berikut: "Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat." (QS. al Baqarah: 253) Ini berarti bahwa terdapat perbedaan derajat di antara para nabi. Kita memiliki nabi yang mulia (fadhil) dan nabi yang lebh mulia (afdhal). "Kami telah utamakan sebagian rasul.." Ini dalam dimensi nubuwah (kenabian), begitu juga dalam dimensi risalah (kerasulan). "Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain."

    Kami tidak ingin menjelaskan perbedaan antara risalah dan nubuwah. Tentu ini di luar kajian kita. Namun yang perlu digaris bawahi, bahwa Al-Quran menjelaskan dalam dua dimensi tersebut adanya perbedaan derajat di kalangan para nabi. Lalu di sini ada pertanyaan, dalam hal apa perbedaan derajat terjadi? Al-Quran pun menjawab hal ini dimana ia menyebutkan bahwa para nabi terbagi menjadi dua kelompok: yaitu mayoritas para nabi bukan ulul azmi dan minoritas dari mereka adalah nabi-nabi ulul azmi. Allah SWT berfirman: "Bersabarlah engkau (hai Muhammad) sebagaimana sabarnya para nabi ulul azmi." (QS. al Ahqaf: 35) Ayat ini memerintahkan Nabi saw untuk bersabar. Tapi sabar yang bagaimana? Bukan seperti sabarnya Nabi Ayyub, tetapi seperti sabarnya para rasul ulul azmi. Oleh karena itu, terdapat riwayat yang menyatakan bahwa Nabi saw bersabda: "Tiada seorang nabi pun yang diganggu seperti gangguan yang kualami." Namun Rasul saw bersabar atas gangguan kaumnya. Dalam ayat yang lain, Al-Quran mengatakan, "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan." (QS. al Qalam: 48) Orang yang berada dalam perut ikan (shahibul hut) yakni Nabi Yunus dimana ketika kaumnya tidak beriman padanya, maka dia melaknat mereka dan meninggalkan mereka. Di sini Al-Quran mengatakan kepada Nabi saw bahwa maqam (kedudukan)mubukansepertimaqam-nyaYunus.

    Di sisi lain, Al-Quran mengatakan tentang Nabi Adam: "Kami telah membuat perjanjian dengan Adam sebelumnya lalu ia lupa dan Kami tidak mendapatinya memiliki keteguhan yang kuat.” (QS. Thaha: 115) Jadi, Al-Quran dengan tegas menjelaskan pembagian para nabi: yaitu para nabi ulul azmi dan para nabi selain ulul azmi. Oleh karena itu, Imam Ali ar Ridha dalam riwayat yang berharga mengisyaratkan tentang para nabi itu dimana beliau berkata: "Para nabi ulul azmi disebut dengan nabi-nabi ulul azmi karena mereka adalah pemilik (pembawa) syariat dan pemilik tekad kuat (`azm). Kami tentu tidak ingin masuk dalam penguraian kata-kata dalam hadis tersebut. Jadi, para nabi yang datang setelah Nabi Nuh as, mereka mengikutinya dan menggunakan kitab yang dibawanya. Ini berlaku sampai zaman Nabi Ibrahim.

    Para nabi pasca Nuh—sebelum zaman Nabi Ibrahim—mengikuti manhaj Nabi Nuh. Ini diisyaratkan dalam firman-Nya: "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang." (QS. al Maidah: 48) Setiap Nabi yang datang setelah Nuh as pasti mengikuti syariatnya sampai datang Nabi Ibrahim al Khalil. Begitu juga para nabi yang datang pasca Ibrahim as mengikuti syariatnya sampai zaman Nabi Musa, lalu para nabi yang datang pasca Musa pun mengikuti syariatnya sampai datang masa Nabi Isa dan akhirnya sampai masa Nabi Muhammad saw. Kemudian lanjutan perkataan Imam ar Ridha tersebut adalah: "Lima nabi itu adalah nabi-nabi ulul azmi. Mereka adalah yang terbaik di antara para nabi dan rasul semuanya." Jadi, Al-Quran menjelaskan kepada kita tentang pembagian para nabi menjadi dua bagian: para nabi ulul azmi dan selain ulul azmi.

    Sekarang kami akan mengupas para nabi ulul azmi. Adalah sangat jelas bagi Anda bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi termulia di antara nabi-nabi ulul azmi. Namun hal ini perlu penjelasan lebih jauh dari Al-Quran al Karim. Jika ada orang yang bertanya, apa dalil Anda yang dikuatkan oleh Al-Quran yang menyatakan bahwa Nabi saw adalah yang termulia di antara nabi-nabi ulul azmi? Memang benar bahwa kita meyakini bahwa Nabi saw adalah yang terbaik di antara ulul azmi namun apa dalil Al-Quran yang meneguhkan hakikat ini? Pada hakikatnya dalil dalam Al-Quran yang menetapkan hakikat ini banyak sekali, namun pertama-tama kami akan menyampaikan suatu mukadimah. Yaitu, apakah mungkin kita mampu mendeteksi mana nabi yang mulia dan mana nabi yang lebih mulia, atau tidak mampu? Khususnya yang berkenaan dengan Nabi Terakhir saw.

    Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh Rasul saw tentang dirinya sebagaimana hadis ini terdapat dalam kitab Mukhtashar Bashair ad Darajat: "Tiada yang mampu mengenal Allah kecuali aku dan kamu." Yang dimaksud kamu dalam hadis ini adalah Sayidina Ali bin Abi Thalib. Nabi menyatakan, 'Wahai Ali tiada yang mengetahui Allah (Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya (QS.al An`am: 91) kecuali aku dan kamu. Dan tiada yang mengetahui aku kecuali Allah dan kamu. Dan tiada yang mengetahui kamu kecuali Allah dan aku. Jika memang demikian bahwa tiada yang mengetahui Nabi saw kecuali Allah SWT maka hendaknya kita kembali kepada Al-Quran untuk melihat bagaimana ia memandang Nabi saw.


    Kami tidak ingin mengupas semua ayat Al-Quran yang menyinggung hal ini namun kami hanya menyebut sebagiannya saja. Misalnya, firman Allah SWT: "Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS. al A`raf: 156) Ketika Allah SWT menyebut Rasul-Nya maka Dia pun menisbatkan rahmat ini padanya dimana Dia berfirman: "Dan Kami tidak mengutusmu (hai Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta." (QS. al Anbiya': 107) .Sungguh menakjubkan maqam ini. Tentu setiap orang akan merasa heran. Sebab, maqam rahmat yang merupakan milik Allah ternyata diberikan-Nya juga pada Nabi-Nya. Lalu, salah satu sifat Allah SWT yang penting yang terdapat dalam Al-Quran adalah sifat ghaniy (Yang Maha Kaya). Sedangkan makhluk-makhluk yang lain faqir (butuh) kepada Allah. Seperti firman-Nya: "Kalian (semua) membutuhkan Allah sedangkan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." QS. al Fathir: 15). Ghina (kekayaan) juga termasuk sifat Allah namun dalam surah at Taubah, Allah pun memberikannya kepada Nabi saw, yaitu firman-Nya: "Dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka." (QS. at Taubah: 74) Sungguh menakjubkan maqam ini. Allah ketika menyebutkan sifat ini (ghina) dalam Al-Quran maka Dia pun menisbatkannya pada Nabi saw. Begitu juga sifat ar ra`uf ar rahim yang merupakan sifat Allah SWT, lagi-lagi Dia memberikannya pada Rasul-Nya sebagaimana firman-Nya: "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. at Taubah: 128)

    Kami tidak ingin mengupas lebih jauh tentang ayat-ayat tersebut namun yang ingin kami bahas adalah ayat berikut ini: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya." (QS. al Baqarah: 31) Ini poin pertama. Lalu poin kedua: "Kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!"(QS. al Baqarah: 31)

    Dua ayat yang penuh berkah ini menjelaskan kepada kita bahwa Adam belajar langsung dari Allah SWT karena pelaku (fa`il) dalam ayat "wa allama" (mengajarkan) adalah Allah SWT. Sebab ayat yang kedua berbunyi: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu (anbihhum biasmaihim). Jadi, antara Allah dan Adam tidak ada perantara (washitah) tapi Adam-lah yang menjadi perantara antara Allah dan para malaikat. Dalam ayat tersebut terdapat dua kekhususan penting. Pertama, bahwa maujud (eksistensi) ini belajar langsung dari Allah SWT dan tidak diperantarai makhluk lain: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya." Kedua, bahwa maujud ini menjadi perantara antara Allah dan para malaikat: "Hai Adam, sebutkanlah kepada mereka nama benda-benda itu (Ya Adamu anbihhum biasmaihim). Tentu di sini terdapat pembahasan yang terperinci tentang ilmu apa yang dipelajari oleh maujud ini. Ilmu yang dimaksud dalam ayat tersebut bukan diperoleh seperti yang biasa kita saksikan di sekolah-sekolah atau di majelis taklim, namun ilmu yang dimaksud adalah seperti yang diisyaratkan oleh firman Allah dalam surah an Naml: "Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab, 'Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.'" (QS. an Naml: 40).

    Sungguh menakjubkan ilmu ini dimana pemiliknya mampu mengatur sistem alam penciptaan (nizham takwin). Orang ini hanya memiliki ilmu sebagian dari Kitab dan ia mempunyai kemampuan seperti ini. Kata minal Kitab (dari Kitab) dalam ayat tersebut berarti sebagian dari Kitab, karena dalam bahasa Arab huruf min itu bermakna tab`idh (yang berarti sebagian). Namun Allah SWT ketika menyebutkan Ali bin Abi Thalib maka Dia tidak menyebutnya memiliki sebagian ilmu dari Kitab namun keseluruhan dari Kitab. Sebagaimana firman-Nya dalam surah ar Ra`d: "Dan orang yang mempunyai ilmu (keseluruhan al Kitab)." (QS. ar Ra`d: 43)

    Kami tegaskan bahwa kami tidak akan membahas lebih jauh tentang makna ilmu dan asma yang terdapat dalam ayat di atas. Secara singkat kami nyatakan bahwa berkenaan dengan penafsiran asma terdapat berbagai pandangan. Namun pandangan yang kami anggap kuat adalah yang menafsirkan asma itu dengan asma Allah seperti firman-Nya "Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya." (QS. al A`raf: 180)

    Kemudian proses belajar itu (ta`lim) tidak mungkin mampu dilakukan oleh para malaikat. Mengapa? Karena ayat itu mengatakan "anbihhum" (beritahu mereka) dan tidak mengatakan "allimhum" (ajarkanlah mereka). Tentu ta`lim dan inba' sangat berbeda. Mungkin Anda pernah mendengar seseorang mengatakan sesuatu namun Anda sama sekali tidak memahaminya. Dalam hal ini Anda tidak belajar tapi diberitahu saja. Tentu ada penjelasan lebih jauh tentang makna ayat ini namun kami tidak ingin membahasanya. Yang ingin kami bahas adalah bahwa dua ayat itu menegaskan bahwa maujud ini mengambil ilmu langsung dari Allah SWT tanpa ada perantara. Allah berfirman: "Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."(QS. al Kahfi: 65) Maujud ini belajar dan yang mengajarinya adalah Allah SWT. Kedua, setelah belajar, ia menjadi perantara antara Allah SWT dan para malaikat-Nya: "Hai Adam, sebutkanlah kepada mereka nama benda-benda itu (Ya Adamu anbihhum biasmaihim).

    Poin penting yang ingin kami kaji ialah: siapakah yang dimaksud Adam dalam ayat tersebut? Mungkin sebagian besar kita mengira bahwa Adam yang dimaksud adalah Adam Bapak Manusia (Abul Basyar). Jawabnya adalah sama sekali tidak! Yang dimaksud Adam dalam ayat: "Wa'allamal Adama asma'a kullaha'' bukanlah Adam Abul Basyar. Apa dalil Al-Quran dalam hal ini. Al-Quran ketika menyebut Adam maka ia menyebut seperti ini: ""Walaq ahidna ila adama min qablu walam najid...azma..cek Lalu apakah Adam "yang seperti ini" dapat menjadi perantara antara Allah dan Nabi saw? Tentu penafsiran dan makna ini sulit diterima! Apakah Anda bisa menerima penafsiran yang menyatakan bahwa Adam yang menurut Al-Quran "fanasiya walam najid lahu azma" mengambil ilmu langsung dari Allah SWT tanpa perantara, sedangkan Nabi saw mengambil ilmu melalui perantara Adam. Tentu penjelasan ini tidak rasional! Oleh karena itu, Al-Quran al Karim ketika mengisyatkan Adam maka ia mengisyaratkan kepada dua Adam—bila benar ungkapan ini: pertama Adam fil mulki dan Adam Abul Basyar, yaitu di alam kita. Namun ada Adam yang terdapat dalam Al-Quran yang disebut adamul malakuti, Adam ini adalah makhluk yang pertama. Namun bukan di alam ini tapi di alam malakut, sebelum alam ini.

    Kami akan menjelaskan hakikat ini. Yang penting perlu Anda ketahui bahwa maujud ini menerima ilmu langsung dari Allah dan kemudian menjadi perantara antara Allah dan para malaikat-Nya. Dan ketika malaikat diberitahu oleh Adam ini maka mereka tahu bahwa makhluk ini lebih mulia daripada mereka. Lalu apa yang terjadi? Firman-Nya: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (QS. al Baqarah: 34)

    Makhluk dan maujud ini dengan ilmu yang diperolehnya layak mendapatkan sujud para malaikat. Lalu bagaimana sujud itu? Sujud itu bukan sujud yang kita kenal dalam istilah fiqih. Tidak demikian. Yang dimaksud sujud di sini adalah ketundukan (khudu`). Yakni, para malaikat tunduk kepada insan kamil ini. Tentu tidak ada satu pun malikat di langit baik yang muqarrab (dekat dengan Allah) atau ghairu muqarrab (yang tidak dekat) kecuali melakukan sujud kepada manusia yang menjadi perantara antara Allah dan para malaikat-Nya. Karena itu, kita temukan dalam ayat lain yang berbunyi: "Maka bersujudlah semua malaikat." Lalu apa defenisi dari malaikat. Malaikat adalah makhluk yang dekat dengan Allah SWT yang digambarkan oleh Al-Quran sebagai berikut: "Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (QS. al Anbiya': 27) Al-Quran menyebut malaikat sebagai makhluk Allah yang mulia, namun mereka justru sujud kepada manusia ini. Lalu apa yang terdapat pada manusia ini sehingga karenanya ia layak mendapatkan sujud para malaikat tanpa terkecuali?

    Al-Quran ketika menyebutkan maqam malaikat Jibril maka Al-Quran mengatakan: "Sesungguhnya ia adalah ucapan dari malaikat yang mulia.” (QS. al Haqqah: 40) Ayat ini mengisyaratkan kepada Jibril, ini didukung oleh firman Allah: "Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat." (QS. al Fathir: 1) Ini maqam Aminul Wahyi Jibril, "Yang mempunyai di sisi arasy yang kokoh.” (QS. at Takwir: 20) Malaikat ini pun ditaati di langit, bukan di bumi, "Yang ditaati di sana lagi terpercaya.” (QS. at Takwir: 21) Ia menjadi kepala (pemimpin di sana). Maujud ini ketika datang ke insan kamil maka ia tunduk kepadanya dan sujud padanya. Karena itu dalam peristiwa Isra Mi`raj disebutkan bahwa ketika ia sampai di suatu maqam, Jibril mengatakan, "Apakah di tempat ini engkau akan membunuhku. Sungguh engkau telah sampai ke suatu tempat yang tidak seorangpun sebelum dan sesudahmu yang mampu mencapainya."

    Inilah maqam Nabi saw. Beliaulah makhluk yang pertama kali diciptakan dan yang belajar langsung dari Allah SWT. Selanjutnya, Al-Quran mengisyaratkan lagi tentang para malaikat dalam firman-Nya: "Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan,dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya, dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya,dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu,untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan." (QS. al Mursalat: 1-6)

    Pada dasarnya para malaikat mengatur semua alam imkan (alam materi). Semua alam ini dibawah pengaturan malaikat namun tentu di bawah kontrol dan izin Allah SWT. Anda temukan misalnya dalam hal kematian, Allah berfirman: "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan." (QS. az Zumar: 42) Mematikan adalah pekerjaan Allah, namun ini tidak bertentangan ketika pekerjaan ini dilakukan oleh para malaikat seperti dalam firman-Nya: "Dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya." (QS. al An`am: 61) Karena mereka adalah mudabbirat (yang mengatur berbagai urusan). Juga yang terdapat dalam firman-Nya: "Katakanlah, ‘Yang mematikan kalian adalah malaikat maut yang diutus kepada kalian.” (QS. as Sajdah: 61) Al-Quran dengan jelas menegaskan bahwa mereka mampu mematikan, menghidupkan, dan memberi rezeki. Alhasil, semua urusan alam berada di bawah pengaturan para malaikat. Lalu kita tahu bahwa malaikat ini di bawah kendali insan kamil. Maka saat ini menjadi jelas seperti apa maqam insan ini? Sehingga saat ini Anda mengetahui makna firman-Nya: "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan." (QS. al Qadar: 4)

    Yang penting dari ayat ini, kita bisa menyingkap hakikat yang fundamental, yaitu bahwa wujud Nabi Terakhir, yakni wujud malukuti atau hakikat nurnya adalah ciptaan yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT. Lalu Allah mengajarinya dan menjadikannnya perantara antara Allah dan para makhluk-Nya. Karena itu, tidak ada satu ciptaan pun di alam ini kecuali berasal dari "tetesan" Nabi Terakhir dan tidak ada sesuatu pun yang naik menuju Allah kecuali lewat dari sisi eksistensi Nabi Terakhir.

    Jabir bin Abdillah bertanya: "Ya Rasulullah, apa ciptaan yang pertama kali diciptakan oleh Allah? Rasul menjawab: "Wahai Jabir, sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah nur Nabimu kemudian darinya Dia menciptakan semua kebaikan." Inilah maqam Nabi Muhammad saw. Karena itu Nabi saw bersabda: ""Aku telah menjadi Nabi sementara Adam masih berupa antara air dan tanah." Anda jangan membayangkan bahwa kenabian ini berhubungan dengan alam kita. Tidak! Kenabian ini bertalian dengan alam malakut. Kami akan membacakan dua riwayat yang berkenaan dengan masalah ini. Riwayat pertama dari Abu Dzar al Ghifari dari Nabi saw: yang bersabda "Aku berkata, wahai para malaikat Tuhanku, apakah engkau mengenal kami dengan pengenalan yang sebenarnya? (Pembicaraan ini terjadi antara Nabi saw dan para malaikat langit. Tentu yang kami maksud dengan langit di sini bukan langit lahiriah tapi langit batiniah.) Para malaikat menjawab: "Bagaimana kami tidak mengenalimu wahai Nabi Allah sementara kamu adalah ciptaan Allah yang pertama kali diciptakan! Kamu berupa cahaya yang berada di antara arasy Allah dalam keadaan bertasbih, bertahmid dan bertahlil dan kami berkeliling di antara kamu dan kami mengikuti pekerjaan yang kamu lakukan. Lalu kami pun bertasbih. Redaksi riwayat itu berbunyi: "Fanusabbih (maka kami bertasbih)." Huruf fa dalam kata fanusabbih dalam bahasa Arab berarti fa litafri`, yakni tasbih kami adalah semata-mata karena tasbih yang kamu lakukan. Oleh karena itu, Nabi saw bersabda: "Kami bertasbih sehingga malaikat pun ikut bertasbih. Kami bertahlil lalu malaikat pun ikut bertahlil. Kami bertakbir lalu malaikat pun bertakbir. Karena mereka adalah pengajar para mailakat: (Ya Adamu anbihhum biasmaihim). Mereka mengajari para malaikat tahlil, tahmid, takbir dan tasbih. Karena itu terdapat riwayat dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang berkata: "Sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan saudara Rasul-Nya." Kata saudara dalam hadis ini bukan berarti saudara dalam hal hubungan darah atau nasab. Dalam bahasa Arab, kata akh (saudara) itu berarti sesuatu yang serupa atau senasab (mitsl).

    Dalam pelajaran kaidah bahasa ada pelajaran tentang inna wa akhawatuha. Yang dimaksud wakhawatuha adalah matsilatuha (hal-hal yang serupa dengannya). Dalam surat Al A`raf disebutkan: "Setiap kali suatu umat masuk (ke dalam neraka) maka ia melaknat saudaranya." Yang dimaksud saudaranya dalam ayat ini ialah umat yang serupa dengannya (mitslaha). Jadi, yang dimaksud pernyataan Sayidina Ali tersebut ialah bahwa aku serupa dengan Nabi saw kecuali dalam hal kenabian. Lanjutan riwayat itu berbunyi: "Dan aku adalah yang pertama kali membenarkannya (shiddiquhul awwal). Aku telah membenarkannya sementara Adam masih di antara ruh dan jasad." Kemudian aku adalah orang yang terpercaya di di antara umat kalian." Riwayat ini tidak hanya dinukil oleh ulama-ulama Syi`ah tapi kalangan mazhab yang lain pun meriwayatkannya. Jadi, Imam Ali mengatakan bahwa aku mempercayai Nabi saw di alam itu dan juga mempercayainya di alam ini. Kemudian Imam Ali meneruskan: "Kamilah yang pertama dan kamilah yang terakhir." Kamilah yang pertama di alam itu meskipun kami yang terakhir di alam kalian.

    Terdapat riwayat yang cukup banyak yang menyatakan bahwa Nabi saw bersabda: "Aku yang pertama kali diciptakan di antara kalian dan yang paling akhir diutus di antara kalian." Nabi menyatakan bahwa dari sisi penciptaan, aku adalah makhluk yang pertama kali diciptakan namun dari sisi kemunculan di alam kalian maka aku adalah nabi yang terakhir diutus. Lalu di sini timbul pertanyaan: Dengan apa Nabi saw mencapai maqam ini? Apakah beliau mencapai maqam ini karena semata-mata Allah memberinnya secara gratis tanpa melihat tingkat kelayakan? Yakni bahwa Allah "Tidak berhak ditanya atas apa yang dikerjakan-Nya sedangkan mereka yang akan ditanya." (QS. al Anbiya: 23) Tentu tidak demikian. Ada tolok ukur yang membuat Allah memberi Nabi saw maqam ini dan Allah "Maha Tahu ketika membuat risalah-Nya." (QS. al An`am: 124)

    Lalu, dengan timbangan dan tolok ukur apa sehingga Nabi saw mencapai maqam ini, yaitu beliau adalah makhluk yang pertama kali diciprakan oleh Allah SWT dan kemudian menjadi perantara antara Allah dan makhluk-Nya? "Allah Maha Tahu ketika membuat risalah-Nya." Tentu di ayat ini dijelaskan apa yang dimaksud a`lamu (lebih tahu) dalam ayat tersebut, yaitu "Yang Maha Tahu tentang siapa saja hamba-hamba-Nya yang bersyukur." (QS. al An`am: 53) Kami tidak ingin mengupas ayat ini, namun kami ingin kembali kepertanyaan semula: Dengan apa Nabi saw mencapai maqam ini? Pada hakikatnya Al-Quran menjelaskan bahwa sebelum penciptaan manusia di zaman tertentu, di masa tertentu dari ibu tertentu, dari ayah tertentu, Allah telah menciptakan manusia ini. Allah SWT berfirman dalam surat al A`raf: "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (QS. al A`raf: 172)

    Tentu kesaksian ini tidak terjadi di dunia ini. Kesaksian ini berkenaan dengan kesaksian rububiyyah yang diisyaratkan dalam firman-Nya: "Fitrah Allah yang dengannya Dia menciptakan manusia.” (QS. ar Rum: 30). Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah." (QS. al Baqarah: 138) Jadi, Allah men-cap setiap manusia dengan stempel tauhid (sibghah tauhid). Stempel ini tidak mungkin bisa diubah (walan tajida lisunnatillah tabdila). Memang manusia bisa menyimpangkan fitrah ini dan bisa menyembunyikannya atau menutupunya namun apakah ia bisa menghilangkannya atau tidak? Nabi saw bersabda: "Setiap bayi terlahirkan atas fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Majusi, Nasrani atau Yahudi."

    Berkenaan dengan hal ini, ada seorang penanya datang ke Sayidina Ali sambil berkata: "Beritahulah aku wahai Amiril Mukmin tentang Allah SWT, apakah ada orang yang diajak berbicara oleh Allah sebelum Musa seperti firman-Nya: "Dan Allah mengajak Musa berbicara dengan suatu pembicaraan." (QS. an Nisa': 164) Amirul Mukminin menjawab: "Dia (Allah SWT) telah berbicara dengan semua makhluk-Nya, baik yang baik (saleh) maupun yang jahat (ahli maksiat) dan mereka menjawab pada-Nya. Penanya berkata: "Bagaimana itu terjadi wahai Amirul Mukminin?" Imam Ali berkata: "Apakah kamu tidak membaca Kitab Allah ketika Ia berkata kepada Nabi-Nya, "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." Mereka mendengar dan mn menjawab. Lalu Allah berkata: Aku-lah Allah ar Rahman yang tiada Tuhan selain aku..Lalu mereka mengakui ketaatan dan rububiyyah pada-Nya.

    Oleh karena itu, ketika kami membagi Adam menjadi dua, maka Anda tidak perlu heran. Adam di alam itu dan Adam di alam ini. Memang benar Adam Abul Basyar adalah yang pertama kali diciptakan di alam ini, tetapi di alam itu tidak. Di alam itu yang pertama kali diciptakan adalah nur Nabi saw. Inilah yang kami sebut dengan Adam malakuti yang berlawanan dengan Adam mulki. Karena kita mempunyai Adam di alam syahadah dan Adam di alam ghaib. Dan Nabi saw di alam ghaib adalah makhluk yang pertama. Lalu kita kembali kepertanyaan semula: dengan apa Nabi saw mencapai maqam ini? Mengapa Allah SWT memilihnya sebagai ciptaan yang pertama kali dimana darinya Dia menciptakan segala sesuatu? Jawabannya terdapat dalam ayat berikut ini dan ayat yang semisalnya, yaitu Allah ketika bertanya kepada semua manusia: "Bukankah aku Tuhan kalian?" Apakah Anda bayangkan semua langsung menjawab secara serentak: ya? Tidak demikian. Ada yang lambat dan ada yang cepat. Al-Quran mengatakan: "Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya." (QS. al A`raf: 101)

    Sungguh ayat ini menakjubkan. Orang-orang yang tidak mempercayai nubuwah dan imamah pada hakikatnya menurut ayat ini mereka sudah tidak mempercayainya di alam itu.. Tentu ayat ini perlu penafsiran sendiri yang kami tidak ingin mengupasnya, Yang penting Al-Quran menunjukkan kepada kita bahwa manusia di suatu tempat sebelum alam ini pernah mengalami pertanyaan ini: "Alastu birabbikum? (Bukankah Aku Tuhan kalian)? Mereka menjawab: "Benar." Lalu timbul pertanyaan: Siapa makhluk yang pertama kali mengucapkan "benar"? Dari sini akan menjadi jelas mengapa makhluk ini diciptakan pertama kali dan diutus terakhir? Pada kajian berikutnya kami akan jelaskan makna yang terakhir (khatam).

    Lalu apa dalil dari Al-Quran bahwa beliau yang pertama kali mengucapkan "bala"? Al-Quran ketika menyebut para nabi maka ia menyebutnya seperti ini: Misalnya ketika ia menyebutnya Nuh maka ia berkata: "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam." (QS. as Shaffat: 79) Ungkapan ini jarang diperoleh Nabi yang lain. Namun Al-Quran ketika menyebut Nabi saw maka ia berkata "Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri." (QS. Az Zumar: 12) Dan ketika menyebut Ibrahim ia berkata: "Aslamtu lirabbil alamin...Lalu Tidak ada satu ungkapan dalam Al-Quran yang diperoleh nabi yang lain selain Nabi Muhammad saw. Perhatikanlah dua ayat berikut ini: "Katakanlah: 'Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'" (QS. al An`am 161-163)

    Hanya saja, ada dua ayat dalam Al-Quran yang menyebut awallul Muslimin (orang Muslim yang pertama kali), yaitu dalam surat al An`am ini dan surat Az Zumar: "Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri." (QS. Az Zumar: 12) Bukan Nuh yang awallul Muslimin, juga bukan Ibrahim, apalagi Musa, Isa dan nabi-nabi yang lain. Lalu ada pertanyaan lagi: Apa yang dimaksud yang pertama (awwal)? Apa yang dimaksud perkataan Nabi saw bahwa aku awallul Muslimin? Mungkin seseorang berkata, yang dimaksud awallul Muslimin adalah awallul Muslimin (yang pertama menjadi Muslim) pada umatnya. Jika makna ini yang dimaksud maka Ibrahim pun awallul Muslimin pada umatnya. Begitu juga Nabi Musa, Isa bahkan semua Nabi adalah awallul Muslimin dibandingkan umatnya. Lalu tidak mungkin Anda mengatakan bahwa awallul Muslimin di sini berarti Nabi saw menjadi Muslim sebelum Nabi Nuh. Tentu tidak, karena Nuh lebih dahulu diutus sebelum Nabi saw.

    Lalu apa makna awallul Muslimin di sini? Yakni awwaliyah (perihal terdahulu) di sini di alam itu, bukan di alam ini. Inilah yang biasa disebut oleh orator dengan sebutan alam atom, alam ghaibas samawati wal ardh (alam gaib bumi dan langit), alam batin, bukan alam syahadah, bukan alam materi, bukan alam dunia. Di alam itu Nabi saw adalah yang pertama kali menjadi Muslim. Oleh karena itu, dalam surah al Ahzab, Allah berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh." (QS. al Ahzab: 7) Perjanjian ini kapan diambi? Di alam gaib atau di alam malakut. Perjanjian ini umum dan berlaku atas semua nabi. Di antara para nabi-nabi tersebut siapa yang pertama kali diutus? Tentu Nuh. Dan yang terakhir siapa? Tentu Nabi Muhammad saw.

    Tapi anehnya, Nabi saw justru disebut sebelum Nabi Nuh as. Mengapa demikian? Jawabnya adalah bahwa di alam perjanjian, Nabi saw yang pertama kali diambil perjanjiannya namun di alam ini beliau yang terakhir diutus. Karena itu ketika Al-Quran menyebut salah satu sifat penting Nabi saw maka ia menyebutnya sebagai Abdullah (hamba Allah) seperti dalam ayat: "Maha Suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya di suatu malam," (QS. al Isra: 1) ayat ini tidak mengatakan "birasulihi." (dengan Rasul-Nya). Sehingga karena itu sewaktu shalat dalam tasyahud kita mengucapkan: "asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluh." Oleh karena itu, menjadi jelas mengapa kita meyakini bahwa Nabi saw di alam itu adalah makhluk yang pertama kali diciptakan.

    Kami ingin mengakhiri kajian ini dengan membawakan riwayat dari Imam Shadiq as dimana beliau bersabda: "Kaum Quraisy datang kepada Nabi saw dan bertanya, Dengan apa engkau diutamakan atas para nabi padahal engkau diutus yang terakhir di antara mereka? Nabi saw menjawab: "Aku yang pertama kali mengakui rububiyyah (ketuhanan) Tuhanku Azza wa Jalla dan akulah yang pertama kali menjawab ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi dan mempersaksikan atas diri mereka, "apakah Aku Tuhanmu" Mereka berkata: "benar." Akulah yang pertama kali mengucapkan "benar" di antara para nabi sehingga aku mendahului mereka dalam pengakuan terhadap rububiyyah Allah. Dari sini menjadi jelas bagi kita mengapa Nabi saw diciptakan pertama kali oleh Allah dan kemudian menjadi perantara antara Allah dan makhluk-Nya.

    Kita memohon kepada Allah SWT agar dijadikan orang-orang yang mengikuti Nabi-Nya secara baik dan agar kita tidak dipisahkan dari Nabi saw dan ahlul baitnya sekejap mata pun. Amin!

    (Ditranskrip oleh: Muhammad Abdul Qadir Alcaff dan pernah dimuat di situs Islam Alternatif)
     
    Copyright © 2012-2013 IPABI Foundation. All Right Reserved.
    Unit IPABI : HUSAINIYAH | HAUZAH | IMAN | PERMABI | HW | TPQ | MT. MAHDAWIYAH.