Tiga Hal yang Tersembunyi dalam Tiga Hal

Print Email and PDF
  • Kamis, 07 Juni 2012
  • in
  • Labels:
  • Allah telah menyimpan tiga hal tersembunyi dalam tiga hal: Pertama, Dia tetap menjaga wali-Nya tersembunyi dari mata makhluk sehingga tak seorang pun yang bisa menghina yang lain dan melihat mereka dengan kejijikan karena takut adanya kemungkinan yang lain itu adalah wali Allah. Untuk menjaga kehormatan seseorang, Dia tetap menjaga wali-Nya tersembunyi dari mata orang-orang. Kedua, Allah menyembunyikan murka-Nya terhadap dosa-dosa. Ada beberapa dosa yang menyebabkan kemurkaan Allah. Diriwayatkan di dalam al-Kafi. Ada suara yang datang, “Wahai orang yang berdosa! Sekarang engkau tidak akan diampuni.” Majlisi menjelaskan hadis ini: artinya bahwa setelah melakukan dosa ini, Anda tidak akan bisa bertobat. Maksudnya bukan seseorang yang bertobat tapi tidak diterima. Yang dimaksud adalah bahwa orang tersebut tidak mau bertobat. Sekarang apakah dosa itu? Imam tidak mengatakan hal ini juga, tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Dia tetap tersembunyi. Ketahuilah bahwa sebagian dari dosa-dosa itu yang jika ada yang melakukannya, pastilah ia akan memiliki akhir hidup yang buruk dan akhiratnya yang hancur. Kasih sayang Allah tidak sampai kepadanya.

    Tetapi dosa apakah itu? Saya tidak tahu. Begitu juga Imam tidak menyebutkannya. Mengapa? Agar orang-orang merasa takut dan tidak mendekati dosa apapun karena takut bahwa itu mungkin dosa yang akan mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah, sehingga manusia tidak bisa menemukan jalan keselamatan.

    Yang ketiga, diantara ibadah juga ada beberapa amal ibadah, yang jika dilakukan, akan memberikan manusia keselamatan. Apakah amal ibadah kepada Allah itu? Ini juga tidak dengan jelas disebutkan. Kami tidak mengetahui apapun. Tidak juga kita mungkin mengtahuinya, karena ia tersembunyi.

    Singkatnya, seorang wali Allah tersembunyi. Tidak ada seorang pun yang mampu mengetahuinya. Mengapa? Agar manusia bisa melihat setiap orang dan membayangkan bahwa mungkin dia adalah seorang wali Allah. Tentu saja, manusia tidak berhak untuk membayangkan bahwa dirinya sendiri adalah seorang wali Allah. Na’udzubillah, sebaliknya bisa jadi kita adalah teman setan. Tetapi kita harus membayangkan orang lain bahwa adalah mungkin mencintainya dan mereka mungkin mencintai Allah; mungkin mereka menaati Allah dengan cara yang benar sehingga mereka lebih baik.

    Wahai kaum wanita! Kalian tidak berhak untuk melihat wanita lain dengan pandangan jijik. Kalian seyogyanya tidak menghina wanita lain. Bagaimana kalian tahu? Sangat mungkin bahwa beberapa orang dari wanita itu, yang telah berdosa, diberi petunjuk untuk bertobat. Mereka mungkin memiliki amal saleh di salam catatan amal mereka, yang mendatangkan kasih sayang Allah. Bagaimana kalian tahu kondisi mereka sebenarnya? Kalian tahu bahwa wanita itu tidak berjilbab, dia berjalan di jalan-jalan dan pasar-pasar tanpa penutup kepala. Lindungi dia, tetapi jangan pernah menghinanya. Jangan pernah menganggap bahwa dirimu lebih tinggi daripadanya, mungkin saja keadaannya akan berubah dengan bimbingan Allah dan dia mungkin akan menjadi orang saleh setelah bertobat dan mungkin akan menjadi lebih baik daripada sejumlah wanita tua yang malu menunjukkan rambut beruban mereka. Di sisi lain, tampaknya wanita yang tidak memakai baju Muslim ini mungkin akan membuat perubahan setelah bertobat dan menutupi dada, kepala, dan kakinya karena Allah dan mungkin dia akan menjadi terhormat dalam pandangan Allah daripada wanita tua yang menghinanya. Wanita tua itu bisa jadi berada di belakang wanita muda di hadapan pengadilan Allah Yang Mahakuasa. (*)

    (Dikutip dari Buku Bermasyarakat Menurut al-Quran yang diterjemahkan dari Moral Values of al-Quran: A Commentary on Surah Hujurat karya Dastghaib Shirazi)
     
    Copyright © 2012-2013 IPABI Foundation. All Right Reserved.
    Unit IPABI : HUSAINIYAH | HAUZAH | IMAN | PERMABI | HW | TPQ | MT. MAHDAWIYAH.